Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
belitung sketsa

Profesi tukang cuci mungkin sebagian orang masih menganggap sebagai profesi rendahan. Padahal sebenarnya profesi tersebut bukan sesuatu yang rendah, bahkan mungkin mulia karena bisa membantu mengurangi beban orang-orang yang membutuhkan tenaganya. Bagi tukang cuci sendiri sebenarnya berprofesi sebagai tukang cuci mungkin juga sebagai suatu pilihan. Akan tetapi mengingat kebutuhan “perut” harus terpenuhi, dengan segala kerendahan hati mau ga mau menjadi suatu pilihan, apalagi di jaman yang serba “susah” seperti ini.

Sementara di sisi lain Wakil Rakyat bagi sebagian orang dianggap sebagai pilihan terhormat. Dengan dalih dan mengatasnamakan wakil dari rakyat mereka berlomba-lomba mencalonkan diri untuk menjadi seorang wakil rakyat. Seorang yang katanya mau memperjuangkan nasib rakyat, termasuk juga nasib tukang cuci.

Padahal kalau kita bertanya secara acak antara profesi tukang cuci dan wakil rakyat, mungkin ada yang menjawab kalau tukang cuci lebih baik dibandingkan wakil rakyat(melihat pada kinerja para wakil-wakil kita saat ini yang sebagian besar masih memperjuangkan nasibnya sendiri).

Tapi sebenarnya bagi tukang cuci ga usah khawatir, profesi kalian masih dibutuhkan banyak orang. Dari ibu rumah tangga, anak kost sampai ke pejabat bahkan wakil rakyatpun ada yang berkeinginan untuk menggunakan jasa kalian. Jangan merasa minder dengan status, karena sebenarnya status kalian lebih tinggi dari wakil rakyat. Wakil rakyat adalah wakil kalian untuk mengemban amanah yang telah kalian titipkan.

Dengan alasan komersil, profesi kalian menjadi suatu lahan bisnis yang baik untuk mengeruk keuntungan. Terbukti akhir-akhir ini menjamur usaha kalian yang istilah kerennya disebut “laundry”. Bahkan menjadi bagian dari gengsi, kalau mencuci di “laundry” lebih baik. Padahal ujung-ujungnya tetap aja namanya tukang cuci yang udah dilengkapin mesin.

Dilihat dari profesinya yang tugasnya hanya mencuci, sebenarnya banyak hal yang sebenarnya bisa jadi bahan pertimbangan dan pembelajaran bagi para calon wakil rakyat kalau nantinya terpilih dan juga bagi para wakil rakyat yang sekarang masih aktif. Dibawah ini ada beberapa yang mudah-mudahan dapat menjadi catatan:
  • Tukang cuci bertugas mencuci, membersihkan noda-noda kotor menjadi bersih, bagi wakil rakyat tolong jangan menodai dan mengotori amanah rakyat.
  • Tukang cuci akan selalu menjaga agar kualitas cucian baik karena kalau tidak pelanggan agar berpindah ke tukang cuci lain, dan tetap percaya untuk menggunakan jasanya. Bagi wakil rakyat tolong kepercayaan rakyat jangan disia-siakan sehingga rakyat tetap percaya dan menganggap kalau wakil rakyat adalah perpanjangan tangan dari rakyat.
  • Karena tukang cuci selalu menggunakan air untuk mencuci, maka tukang cuci dapat dikatakan berada di area yang basah, dan mereka tidak menggunakan area basah itu untuk hal lain kecuali untuk mencuci. Bagi wakil rakyat yang katanya berada di “area basah” tolong jangan manfaatkan kondisi ini.
  • Tukang cuci hanya mencuci apa yang seharusnya mereka cuci. Wakil rakyat tolong jangan ikut-ikutan mencuci juga seperti “praktek cuci uang” (money laundry).
  • Tukang cuci berusaha membersihkan sebersih mungkin apa yang harus dicuci. Wakil rakyat tolong jangan mencuci sebersih-bersihnya otak rakyat(brainwash) yang hanya bertujuan untuk kepentingan diri sendiri.
  • Tukang cuci tidak akan mencuci tangannya sebelum pekerjaannya benar-benar selesai. Wakil rakyat jangan sekali-kali “cuci tangan” terhadap masalah yang mungkin terjadi.
  • Setelah cucian selesai tukang cuci akan mendapatkan kompensasi dari jasanya. Wakil rakyat jangan berpikiran untuk minta “kompensasi lebih” karena merasa telah memperjuangkan hak dan nasib rakyat. Karena memang sudah menjadi tugas sebagai wakil rakyat.
  • Ketika tukang cuci melakukan suatu kesalahan, mungkin beberapa pelanggan yang dirugikan dan pelanggan itu akan complain dan secepat mungkin tukang cuci akan memperbaiki kesalahannya agar tidak ditinggal pelanggan. Untuk wakil rakyat tolong jangan mencoba-coba membuat suatu “kesalahan”, apalagi yang sangat fatal. Karena bukan beberapa orang yang akan dirugikan, tetapi seluruh rakyat, bangsa dan negara.

Mungkin masih banyak hal yang bisa kita petik dari hanya sekedar profesi sebagai tukang cuci. Jadi tolong jangan menganggap rendah tukang cuci. Hidup tukang cuci!!!!!!


Jakarta, Selasa 2009-03-07:44 (Yulias)

belitung sketsa
Moral……
Sekedar illustrasi, diriku bernama moral
Entah kenapa kok disebut dan bernama moral
Karena sejak dilahirkan diriku bernama moral
Hari demi hari diriku tetap bernama moral
Kata orang sih, moral itu dibutuhkan oleh semua orang
Apakah dia berasal dari kalangan biasa sampai ke kasta tertinggi
Karena kalau dipakai apa yang namanya moral, InsyaAllah akan selamatlah negeri ini
Tetapi katanya, apabila diacuhkan akan membuat tidak nyaman
Tidak nyaman terhadap siapa yang tidak menggunakannya kalau dia sebenarnya menyadari
Maupun terhadap siapa yang terkena efek, akibat atau dampak dari yang tidak menggunakan moral
Walaupun diriku tidak berwujud dan tidak kasat mata
Tetapi sebenarnya semua orang pengen sih memanfaatkan dan menggunakan moral
Moral didambakan setiap apapun, siapapun, kenapa, dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun
Katanya kalau ada yang memanfaatkan dan menggunakan moral suka tidak suka akan mendatangkan pujian
Tetapi kalau tidak memanfaatkan dan menggunakan moral malah akan mendatangkan cacian dan makian dan bahkan malapetaka
Katanya yang tidak membutuhkan dan menggunakan moral nanti dengan sendirinya berganti nama menjadi amoral

Jakarta, Selasa 2009-03-17 – 12:30
belitung sketsa

Kira-kira beberapa jam yang lewat, diriku nonton sebuah acara di stasiun tipi swasta (baca: Barometer SCTV). Acaranya cukup menarik dan seru untuk dipelototin. Topiknya tentang artis-artis kita yang mencalonkan dirinya menjadi wakil rakyat.

Yang diundang untuk berceloteh ada 5 orang artis ditambah 2 orang pengamat dan dua institusi pendidikan (baca: 2 sekolah). Selain itu juga diundang yang katanya baru nulis ‘n’ nerbitin buku yang berkisah tentang koar-koar para artis yang jadi calon wakil rakyat. Terus acara ini juga dilengkapin statistic hasil poling dari 10 kota besar yang membahas artis dan wakil rakyat….mungkin biar seru kali yeee….

Kebetulan juga pemirsa…eehh salah…pembaca….dari 5 artis ini, salah satunya lagi aktip sebagai wakil rakyat yang katanya masih dipercaya untuk nyalon lagi.

Begitu acara ini dimulai dan para peserta yang diundang ini diperkenalkan …. mulailah terjadi silang pendapat. Si artis mengemukakan alasannya tuk jadi wakil rakyat walaupun sebenarnya alasannya sangat sangatlah klasik menjurus najong…taukah sodara-sodara apa itu…tak lain ‘n’ tak bukan semuanya katanya “demi rakyat”, mereka terpanggil untuk bela kepentingan rakyat yang sudah ditindas selama ini…

Acara bertambah seru setelah ada pertanyaan dari para mahasiswa. Para artis menjawab apa yang harus mereka jawab, berargumen ‘n’ bertambah dahsyat setelah para pengamat mementahkan jawaban para artis. Si pengamat berpendapat dengan background ‘n’ pengetahuan yang dia miliki. Sementara para artis dengan caranya sendiri mencoba untuk mempertahankan argumennya. Acara jadi semakin panas. (kompor kali)

Tapi tiba-tiba otak ‘n’ pikiran diriku ngerasa keganggu dengan argument ‘n’ sikap prilaku para artis kita yang notabene calon wakil rakyat. Ketika ada pertanyaan tentang layaknya mereka tuk jadi wakil rakyat? Siap mundur ga, kalo entar ga bisa kasi kontribusi? Terus ada pernyataan dari akademisi bahwa mereka ga yakin dengan para artis.

Tapi apa jawabannya sodara-sodara….si artis berargumen bahwa dia layak karena tau penderitaan rakyat. Kalopun mahasiswa ga suka dia no problem, karena mereka dengan yakinnya bilang mempunyai kantong-kantong suara, jadi tanpa mahasiswa ga masalah. Emang sih jawaban yang biasa…tapi kok diriku ngeliat…seperti jawaban yang sedikit “arogan”…..apalagi mereka menjawab dengan muka yang kurang bersahabat???!!! Apa karena terlalu serius…..taulah….

Apalagi artis yang lain menyebutkan mereka layak untuk dipilih, toh katanya mereka berpendidikan ‘n’ lagi kuliah S2. It’s ok mereka kuliah, baguslah kalo’ artis kita ga hanya ngandelin cakep doang…tapi itu dia mukanya kok ga asik banget ya…terus seperti ga mo kalah ‘n’ ga mo disalahin…..

Ketika ada pertanyaan berapa dana yang telah mereka keluarkan? Dan bagaimana mereka mengembalikan dana yang telah dikeluarkan buat kampanye? Entar korupsi lagi?

Jawaban mereka bahwa ga masalah berapapun dana yang udah dikeluarkan, toh demi rakyat.

Ok jawaban yang top abisss….tapi ketika ada celoteh honor mereka ma korupsi…..jujur diriku sangat tidak suka. Bahwa mereka berjuang buat rakyat, demi rakyat…siiplah…tapi embel-embel kalimat buat apa korupsi? honor di wakil rakyat mereka berapa sih? lebih banyak honor yang mereka dapatkan kalo dia jadi artis….!!!! Emang sih dicelotehin sambil “cengengesan”, tapi kembali diriku ngeliat raut mukanya itu loh…ok itu becanda…..tapi bagi yang peka ma sensitip kayanya terkesan “cari pembenaran”…(maap artis….bukan diriku loh yang sensitip, orang-orang lain mungkin yang sensitip)

Emang sih kalo dari sisi materi, penghasilan jadi wakil rakyat ga seberapa dibandingkan kalo dia maen sinetron, manggung ato apalah. Tapi perlu diingat kata orang bijak sih manusia itu pasti yang di incer “harta, tahta ‘n’ wanita”. Harta udah mereka dapet. "Kekuasaan" apakah uda dia dapet????

Untuk jawaban dengan mimic becanda it’s ok, mungkin biar ga tegang. Tapi ketika jawaban yang kadang-kadang kelewat ga nyambung disertai dengan polah yang “kurang berkenan” itu yang bikin diriku berpikir ‘n’ berpikir lagi.

Mungkinkah entar di ruang sidang kelakuan mereka yang tak “senonoh” itu muncul, karena kita ga tau entar yang terjadi ‘n’ apa yang mereka kerjakan di senayan sana. Apa entar sidang yang seharusnya serius jadi sidang “lelucon”. Kita ga tau, karena ga ada stasiun tipi yang nyorot beliau-beliau secara penuh ato ga ada siaran khusus tiap hari, tiap saat……(boleh juga nih ide buat stasiun tipi khusus nyorot klakuan para wakil kita selama 24 jam, 7 hari, 4 minggu, 12 bulan ‘n’ lima tahun pull)

Istilah “badut-badut politik” yang sering kita denger selama ini jadi badut beneran……..

Kamis, 2009-03-19 – 05:48 (Yulias)
belitung sketsa

Puluhan artis da latah ikut-ikutan untuk jadi wakil rakyat…maap ni bukannya ngelarang, silahkan selama “layak” ‘n’ yang jelas harus memenuhi persyaratan sebagai calon wakil rakyat.

“Layak” disini bukan sekedar layak karena bermodalkan ganteng, cantik ato karena popular!!! Disini bukan panggung artis yang mereka gelutin selama ini, tetapi panggung yang sebenar-benarnya. Kalo’ di panggung keartisan, kecil resiko yang mereka akan dapatkan, paling-paling ditinggal penggemar, pelmnya ga ditonton orang, lagunya ga didengerin ato ga laku dijual.

Panggung disini resikonya sangat “maha besar”, karena bukan sekedar ditinggal penggemar tapi akan memakan korban. Rakyat akan menderita dan semakin sengsara. Kalo di panggung keartisan paling lama shownya sejam dua jam. Kalo penggemar suka maka pelmnya dipelototin sampe abis ‘n’ lagu didengerin mpe kaset ma CDnya rusak. Kalo penggemar ga suka paling ganti program lainnya (baca:sinetron dansebagainya).

Tapi kalo di panggung yang sebenarnya ini durasinya amat panjang, ga kurang ga lebih lima tahun!! Kecuali berbesar hati mundur kalo uda ngerasa ga mampu berbuat buat rakyat. Dengan waktu lima tahun, suka ga suka rakyat akan menerima apapun hasilnya baik ato buruk..kecuali bisa ganti program kaya’ di tipi kali yeee…..

Cuma yang jadi pertanyaan buat mereka adalah apakah bener mereka-mereka serius memikirkan rakyat, kalo emang serius, layak ‘n’ wajib kita dukung. Tapi kalo’…………….(silahkan isi terserah pembaca) apakah layak kita dukung?

Bukannya “pesimis” dengan kehadiran mereka, tapi karena ada yang bilang kalo mereka tampil sebagai calon wakil rakyat hanya bertujuan untuk mendulang suara dari Partai….yang kalo’ di kerenin namanya menjadi “vote-getter”. Terus untuk rakyat sendiri sebagai pemilih nantinya apakah akan “fair” untuk memilih? Jangan-jangan mereka milih karena merasa kenal dengan figur “keartisannya”.

Apalagi ada beberapa kader partai yang katanya ngaku udah “karatan” di Partai, merasa tersisih dengan kehadiran para artis. Tempat mereka udah di “kudeta” secara terang-terangan. Para kader lama mungkin berpikir kok enak banget ya para artis ini, ga ikut berjuang membesarkan partai, tiba-tiba jadi calon-calon anggota wakil rakyat. (uuhhh bener-bener ga berperasaan ni artis). Sementara para kader yang katanya uda abis-abisan besarin partai susah abis tuk jadi calon anggota wakil rakyat.

Tapi kita juga harus bersyukur dengan adanya calon dari para artis. Paling tidak uda buat nuansa baru di dunia perpolitikan kita. Wajah-wajah baru, yang mungkin akan menggeser wajah-wajah lama yang ga jelas. Paling tidak dengan kepopulerannya, kita berharap mereka lebih mudah bersosialisasi, berkomunikasi dengan rakyat ketika mereka uda jadi wakil rakyat. Rakyat mungkin jadi gampang “curhat” kali yeee…ma para artis….tentang suka duka dan deritanya………Amiiinnn….

Tapi it’s OK… mungkin uda saatnya emang para artis kita layak ganti panggung. Mungkin dari mereka InsyaAllah Indonesia bisa berubah. Daripada wakil-wakil kita yang ada sekarang ini serba ga jelas. Bahkan dengan PDnya nyalon lagi dengan alasan rakyat masih membutuhkan beliau-beliau yang merasa “terhormat”.

Selamat berjuang ARTISKU…..mudah-mudahan hatimu, niatmu, tujuanmu secantik ‘n’ seganteng mukamu!!!!!

Iseng-iseng dari orang bego =

Jumlah calon wakil rakyat dari artis berjumlah 63…..jadi kalo di jumlahin secara bego pula katanya menjadi 9 ‘n’ artinya sama dengan QIYU yang berarti pula angka yang baik. Mudah-mudahan para artis kita baik ‘n’ membawa harapan yang baik….Amiiinnn….

Waktu kalong, Kamis 2009-03-19 – 03:41 (Yulias)
belitung sketsa
Adanya kampanye terbuka memberi kesempatan ma calon-calon wakil rakyat kita untuk memperkenalkan diri mereka siapa sebenarnya….manusiakah, mahkluk haluskah…ato mahkluk lainnya!!!

Kesempatan buat rakyatku tau ‘n’ bisa mikir sapa sih yang pantas akan mereka pilih? Sapa sih yang akan menjadi perwujudan dari rakyat? Jangan berubah wujud entar…..Sapa sih yang mo ngibulin mereka….Naudzubillah….

Emang sih kampanye terbuka merupakan sebuah kesempatan, tapi tolong jangan lupa ma tugas ‘n’ tanggungjawab masing-masing. Kenapa diriku berucap dengan kalimat tersebut diatas, karena diriku tertarik ma tayangan di salah satu stasiun tipi swasta. Tipi swasta tersebut mengaku dapat bukti kalo di Kantor DPRD salah satu kota di Jawa Barat, pada kampanye terbuka hari ketiga ini kosong melompong tak ada tampak batang hidungnya.

Menurut info yang mereka dapat, katanya para wakil rakyat (lagi aktip) di Purwakarta itu lagi kampanye terbuka. Padahal diantara mereka ga semuanya ada jadual kampanye (katanya para wakil rakyat yang masih aktip nyalon lagi)..?!@!@?$$?? ….nyalon lagi…..???

Terlepas ada jadual ato ga, tapi diriku jadi bertanya-tanya!!! Gimana mo nyalon lagi??? Yang sekarang aja mereka da "kabur-kaburan" apalagi entar?!? Kalo emang mo nyalon lagi boleh-boleh aja, ga masalah kok. Toh kan ga ada yang ngelarang, apalagi katanya disebutkan bahwa setiap warga Negara berhak dicalonkan dan mencalonkan…sok tau diriku ya…tapi iya sih diriku pernah denger tu peraturan tapi ga tau nomer e piro?!

Mungkin kalo niatnya baik ‘n’ demi kemaslahatan umat…InsyAllah…tanpa kampanye terbukapun pasti dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa…Amiinnn….untuk jadi wakil rakyat….jadi ga perlu takut. Ato juga bisa disiasatin dengan cara lain…maap diriku ga bisa kasi solusi cantik, karena para calon wakilku pasti punya cara yang lebih brilliaaaaannn.

Jadi…….

Tolong jangan buat alasan yang ngada-ngada. Amanah tetap amanah…tanggungjawab tetap sebuah tanggungjawab yang harus dipertanggungjawabkan!!!!!!!!!...ingat itu!!!!!....cam kan!!!!!

Waktu kalong, Kamis 2009-03-19 – 02:17 (Epphy’x)
belitung sketsa
Awas Ketipu…Pilih Yang Berisi
(……terinspirasi iklan Tipi……..)

Hari ketiga….

Boleh juga tu iklan….kalo kita hayati, kita cermati, kita renungkan….sederhana…simple sih….tapi arti dan maknanya men…..dahsyat abis….ngalahin bom Bali…

Iklan itu, bikin gw yakin seyakinnya, pasti yang punya ide sebelumnya ga perlu mikir lagi ‘n’ ngebahas-bahas lagi. Pasti beliau yang punya ide cukup ngeliat kondisi yang terjadi saat ni terus nyocokin ma janji-janji jaman dahulu kala sebelum beliau-beliau terhormat menjadi “wakil kita”. Yang jelas semuanya jadi ga jelas, ga tau juntrungannya antara janji ma saat ini……salut deh ma yang punya ide sekalian ma tukang rokoknya sekalian (iklan LA Light)…

Kayaknya iklan tu cocok banget buat ngingetin kita, ngingetin rakyat kita, jangan asal pilih ‘n’ percaya ma tukang-tukang kibul yang lagi ngibul dimana-mana, walaupun katanya buat memperkenalkan diri ke rakyat biar rakyat tau, kalo doi-doi mau berjuang demi rakyat…..katanya sih. Kalo ga salah nama acara ma kegiatannya, mereka populerkan dengan istilah keren plus gaul bertajuk KAMPANYE TERBUKA.

Rakyatku tolong ya…. iklan tu dipikirin, kalo perlu nanya ma “tukang pakar” bener ga tu iklan, apa Cuma ngada-ngada? Pasti jawabannya banyak bilang yang bener....ya bener kalo iklan itu bisa inget ma produknya (maap tukang rokok) ….tapi ga usah khawatir ga beli produknya ga papa kok…namanya aja lagi mo jualan..kok bahas produknya…tapi yang jelas pesen dan makna tulisan yang ada disitu “Awas Ketipu…Pilih Yang Berisi” sangat menggetarkan hati.

Jangan mpe kita ketipu ama yang kita pilih, yang entar malah bilang nyesel kalo da pilih “kucing dalam karung”….tapi isinya dalam karung kok banyakan “tikusnya” yak?!@#@!? Bener sih milih yang berisi ‘n’ isinya bener-bener banyak, mpe karungnya hamper jebol lo…..tapi ternyata isinya “tikus” semua piye toh?

Jangan mpe terpengaruh ma yang katanya berisi tapi isi yang ga jelas! Jangan terbuai yang hanya sejam dua jam, karena entar panjang lo waktunya, lima tahun mereka bisa lebih dahsyat tuk ngibulin kita semua. Cukuplah kesalahan-kesalahan masa lalu berakhir sampai disini, jangan lagi ada duka antara kita…ceilah lagu banget yak…

Kan kata Sang Raja Dangdut kita OM SONETA Group Bang H. Rhoma Irama “jangan sampai kehilangan Tongkat”, maap bang Aji kalo judulnya salah, abis yang diriku inget begitu. Jadi entar rakyatku kalo milih jangan mpe salah, salah, salah ‘n’ salah lagi. Ga ada alasan lagi karena ga ngerti sapa yang mo dipilih, terus asal-asalan nyontreng, nanya’ dulu kalo emang ga tau ‘n’ ga ngerti.

Pokoke jangan ada yang ngeluh lagi karena alasan apapun entar setelah lima tahun ke depan, karena yang kalian pilih rakyatku untuk kepentingan kalian…..!!!!!!!!!

Makasih iklanku…sakalangkong tang iklan….ma’ kase iklan….thanx…

Waktu kalong Kamis, 2009-03-19 – 01:49 (Epphy’x)


belitung sketsa
Ber………
Berkhayal
untuk melakukan hal terbaik dan bercita-cita…..
Bercita-cita agar khayalan kita tidak sia-sia dan terus bermimpi…..
Bermimpi untuk memelihara cita-cita dan tidak lupa untuk berusaha…..
Berusaha untuk mewujudkan mimpi dan segera bertindak…..
Bertindak dengan tidak banyak bersuara…..
Bersuara apakah tindakan ini benar apa salah dengan bertanya…..
Bertanya dengan suara lemah lembut dan berjiwa besar…..
Berjiwa besar untuk menerima jawaban dari bertanya dan mencoba untuk berpikir…..
Berpikir dengan jiwa besar untuk mencari langkah terbaik sebelum berbuat…..
Berbuat untuk menerjemahkan hasil buah pikiran dengan tidak lupa berdoa…..
Berdoa agar semua tercapai dan terkabul atas izin Allah serta berlapang dada…..
Berlapangdada apapun jawaban dari doa dan tetap terus bersyukur…..
Bersyukur terhadap apa yang telah kita terima, terlepas baik atau buruk karena semua hal itu InsyaAllah adalah yang terbaik yang Allah berikan…..

Jakarta, Selasa 2009-03-17 – 04:27 (yulias)
belitung sketsa

Beberapa waktu yang lalu masyarakat Belitung dihebohkan dengan dua kata yang disebut "laskar pelangi". Hampir di setiap kesempatan semua membicarakan apa itu yang disebut dengan laskar pelangi. Dari hanya yang sekedar obrolan disekitar warung kopi sampai ke obrolan yang katanya sudah kategori tingkat tinggi. Dari mereka yang hanya sebatas memuji sampai dengan mereka yang tidak suka dengan kehadirannya.

Semua berlomba pengen tau seperti apa sih mahkluk yang bernama laskar pelangi? Siapa sih yang menjadi inspirasi dari laskar pelangi? Gimana sih bentuknya laskar pelangi yang mampu mengangkat nama Belitung menjadi dikenal kalau sebenarnya Belitung itu ada? Sejenis apakah laskar pelangi yang mampu membius masyarakat, yang katanya se-Indonesiapun membicarakannya.

Tetapi bagi mereka-mereka yang uda tau, cepat berpikir dan bertindak. Dari yang hanya sekedar pengen nampang, numpang dan mungkin mencatut kebesaran laskar pelangi hanya untuk kepentingan tertentu. Pokoke dari laskar pelangi nama Belitung udah ga dipandang sebelah mata lagi. Dan Belitung pun yang katanya masih memiliki mempunyai potensi-potensi lainnya, akan siap meledak kapanpun, dibutuhkan atau tidak.

Tetapi “euphoria” itu sekarang mungkin masanya sedikit udah lewat dan udah berganti dengan “euphoria” yang lain. Kalau sebelumnya laskar pelangi bercerita tentang perjuangan anak-anak bangsa Belitung agar nantinya menjadi lebih baik, maka sekarang laskar pelangi berjuang dalam bentuk lain.

Disebut dengan laskar pelangi dalam bentuk lain, mungkin hanya sekedar mengada-ngada dan sok tau. Laskar Pelangi yang sekarang disebut Pemilu 2009 dan pemainnya, pelakunya dan aktornya tetap masyarakat Belitung. Mungkin bedanya dengan laskar pelangi sebelumnya adalah momennya, waktunya, jumlah pemainnya, kepentingannya atau tujuannya.

Laskar pelangi yang sekarang melibatkan keseluruhan masyarakat Belitung yang udah memenuhi syarat tanpa terkecuali. "Sutradaranya" pun lebih banyak, mungkin 99,9999% masyarakat Belitung dari jumlah penduduk, selebihnya kebagian peran sebagai peran pembantu. Kenapa sutradaranya lebih banyak karena mereka-merekalah yang nantinya akan menentukan siapa yang akan menjadi pilihan mereka untuk membawa Belitung kearah yang lebih baik.

Untuk menjadi aktornya mungkin tidak ada, yang ada hanya peran pembantu dengan jumlahnya sangat sedikit. Yang menjadi peran pembantu adalah mereka-mereka yang dengan sengaja mengajukan diri untuk kebagian "peran pembantu" (baca:wakil rakyat). "Peran pembantu" yang nantinya tugasnya menjadi “pembantu” masyarakat Belitung untuk memperjuangkan aspirasinya, memperjuangkan nasib masyarakat Belitung agar menjadi lebih baik dari saat ini.

Laskar pelangi kalau diterjemahkan secara bebas mungkin berarti pasukan yang berwarna-warni seperti warna pelangi. Seperti halnya Pemilu kali ini juga berwarna-warni. Warna atribut yang beraneka ragam, program kampanye bermacam-macam, sampai ke tingkah polah para calon peran pembantunya.

Agar terpilih sebagai peran pembantu(baca:wakil rakyat) mereka mencoba untuk ikutan “casting” seperti halnya pada proses pembuatan film. Mereka berekspresi, berimprovisasi, berimpresi, beraktualisasi untuk menarik perhatian sang sutradara(baca:masyarakat Belitung).

Mereka berupaya dengan segala cara (asal dengan tidak dengan cara kotor atau menghalalkan segala cara) agar nantinya bisa menggugah sang sutradara untuk memilihnya. Ada yang memberikan janji akan menjadi peran pembantu terbaik ketika nantinya terpilih dengan segala macam alasan (mudah-mudahan bukan janji palsu). Ada yang mengajak sang sutradara untuk ikut menjadi pemain kalau filmnya nanti diproduksi (baca:mengajak jadi "relawan", bukannya para peran pembantu telah merelakan dirinya yang menjadi relawan masyarakat). Ada juga yang dengan sok PDnya (baca:percaya diri) merasa sudah terpilih menjadi peran pembantu (baca:merasa punya massa pemilih), dan masih banyak tingkah polah dan prilaku mereka-mereka dari yang serius sampai yang lucu bin unik yang mengundang tawa.

Tetapi apapun bentuk dan perilakunya, paling tidak mereka-mereka telah memberikan hiburan gratis bagi masyarakat Belitung, setelah sebelumnya dihibur dengan laskar pelanginya Andrea Hirata. Mungkin laskar pelangi yang sekarang akan lebih menarik dibandingkan dengan laskar pelangi sebelumnya. Masih “casting” aja mereka udah bisa menghibur masyarakat, apalagi kalau proses pembuatan filmnya (baca:proses Pemilu) selesai. Karena laskar pelangi yang sekarang sutradaranya adalah masyarakat sendiri dan tentu hasilnya lebih dahsyat sesuai keinginan masyarakat Belitung……InsyaAllah…Amiiinnn…

Jakarat, Selasa 2009-03-17 – 14:25 (Yulias)
belitung sketsa

Hai Belitung gimana kabar nih ……….?

Hai para calon-calon kita yang merasa “terhormat”……

Hari pertama da lewat dan mau ga mau kita dihadapin dengan datangnya hari kedua. Ngomong-ngomong hari kedua nih, kira-kira ada berita menarik ga? Ya.. sesuatu yang bikin heboh gitu…kalo bisa sih ngalahin hebohnya “Laskar Pelangi”?!?!?

Adakah hal yang perlu mendapat perhatian? Emang lagi PDKT calon pacar perlu dapat perhatian (tapi iya sih lagi PDKT ama pacar-pacar baru yang bernama rakyat).

Ato hal yang bisa "mengganggu" pikiran? Ya paling tidak biar ada yang bisa “mikir”, kan kita katanya diciptakan agar bisa “berpikir”. Atau jangan-jangan udah ga ada yang bisa “berpikir”, karena kelewat nafsu berkampanye….tapi jangan sampe pikirannya rusak lohh…entar yag lagi di PDKT (baca:rakyat/konstituen) ikut-ikutan jadi rusak….kalo emang mo rusak…jangan ngajak-ngajak rakyat! Cukup diri-sendiri aja yang rusak (map ni bukan doain).

Kembali ke topik nih…kampanye terbuka….mungkin secara depinitip artinya kira-kira calon-calon kita ga perlu maen “umpet-umpetan” kalo mo kampanye kali yee….
Ato juga secara “tersurat” memiliki sebuah arti bahwa apa yang namanya kampanye boleh dan boleh dan boleh lagi teriak-teriakan di luar ruangan ‘n’ ga perlu takut ma “PANWASLU” ditangkepin karena dianggap nyolong start (emang maling, tapi iya juga sih karena kata orang dulu-dulunya ada yang jadi maling duit rakyat)…..

Terus ceritanya nih kan uda kampanye terbuka….terus juga ga umpet-umpetan, berarti PANWASLU bisa ganti nama dong jd PANWAS-GUE, yang artinya kurang lebih dan tidak kurang begini Panitia yang Ngawasin Ga’ Umpet-umpetan lg…kalo’ salah mohon dimaapkan yah….soalnya gw kaga’ ngarti’….

Terus…emang tukang parkir terus terusss…..bagi yang kampanye nih, uda belon nyampein pesen-pesennya ma rakyat…atao da belon “ngibulin” rakyat…..tapi kalo’ mo ngibul sekarang mungkin tak maapin….tapi kalo ntar da jadi wakil rakyat mpe ngibulin….AWASSSS…jgn mpe dukun-dukun ikut bertindak…ato “kedaong” pun ikut-ikutan neror kalian…

Terusss lagi…calon-calon kita uda ada yang ngajak jadi “relawan” ga ke rakyat….? kalo’ menurut gw salah sih klo’ ngajakin jd “relawan” sekalian aja ngajak “romusa” massal?!@#?$#??!.............tapi mungkin lebih “terhormat” kalo’ calon-calon kita ngajakin makan enak tiap hari bareng-bareng, ngajak seneng-seneng (sembari kerja lo)…..ato mungkin pilihan “terbaik ‘n’ lebih terhormat”…Ajakin aja sekalian jd anggota Dewan (nah lo siapa yang jd rakyatnya…)

Tapi apapun bentuknya, apapun yang dilakukan para Calon-calon yang merasa “terhormat” kita, untuk “sementara” kita “hargai”, kita “dukung”, toh mereka juga sama-sama makan nasi’ (sorri kebanyakan nonton tipi).
Ok lah kalo gitu…apapun…whatever…go for it….

Kedaong = sejenis jadi-jadian yang ada di Belitung

Rabu, jam kalong gw kira-kira menunjukkan angka 03:46 dini hari (Epphy'X)
belitung sketsa
...area di kaki perbukitan Samak, dilihat dari ketinggian Samak.....


...SAMAKku Indah SAMAKku ANCHOORRRR…

Ketika diriku berada di puncak ketinggian sebuah perbukitan kecil….
Pandanganku jauh dan lepas menatap cakrawala…
Keatas memandang langit biru bersih…..
Kebawah melihat rimbunan semak dan pepohonan hijau….
Kebawah dengan pandangan agak menjauh terlihat ombak berkejar-kejaran di sepanjang pantai….
Lebih jauh lagi tampak seolah-olah pulau-pulau kecil….
Pikiranku melayang……
Dan hanya satu kata yang terlintas dalam benakku….SubahanaAllah….
……………………………………………..
Tapi setelah melihat sekitar dimana diriku berpijak……
Kuperhatikan dengan seksama…….
Ternyata dalam benakku banyak hal yang terpikirkan….
Kucoba untuk melihat lagi, lagi dan lagi….
Berpikir lebih kuat lagi dan meyakinkan pikiranku salah atau benar…..
Ternyata penglihatan dan pikiranku tidak salah….
Dalam pikiranku memang bukan satu kata yang terlintas…..
Akan tetapi banyak kalimat yang terlintas…..
Banyak hal yang harus kupertanyakan…..
Yang akhirnya membuat diriku miris…
Kucoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut…
Tetapi diriku tidak mampu untuk menjawabnya…
Hanya beberapa yang bisa kujawab, tetapi lebih banyak lagi yang tidak terjawab……
Tapi satu pertanyaan yang diriku yakin jawabannya adalah benar yaitu….

Nama perbukitan kecil itu adalah Samak…..

Sementara pertanyaan-pertanyaan lain tidak mampu kujawab…..
Dan semakin membuat diriku penasaran….

Beberapa pertanyaan yang tidak bisa diriku jawab adalah….
  1. Apakah "potensi" seperti Samak akan terabaikan?
  2. Apakah jaman dulu waktu pertama kali ditemukan hanya untuk "disia-siakan"?
  3. Dari beberapa fasilitas tersisa, pada masa lalu kawasan memang sengaja "direncanakan", tapi saat ini kok jadi "berantakan" dan "semrawut"?
  4. Apakah dulu si empu sebelumnya tidak menitipkan suatu "pesan" pada Empu yang sekarang kalau Kawasan Samak harus pertahankan dan dikembangkan? ..."pengelolaan"....
  5. Apakah "pohon-pohon besar" yang ada jumlahnya akan "berkurang" dan "habis" karena dimakan usia?
  6. Atau apakah pohon-pohon itu secara sengaja "ditebang" dengan dalih membahayakan?
  7. Apakah pohon-pohon besar yang ada hanya dijadikan bahan pembicaraan, kalau pohon-pohon besar itu adalah "tempat angker"?
  8. Apakah beberapa bangunan tua yang tersisa bisa dijadikan "peninggalan bersejarah"?
  9. Apakah mungkin Kawasan Samak dapat dijadikan sebuah "kawasan cagar budaya" sebagai "kawasan tua"?
  10. Apakah Kawasan seperti Samak tidak mampu menjadi salah satu "daya tarik pariwisata"?
  11. Apakah Kawasan Samak dengan potensinya tidak mampu "menarik investor"?
  12. Apakah mungkin Kawasan Samak dapat dijadikan sebuah "resort"?
  13. Apakah dengan adanya beberapa bangunan dan fasilitas baru itu sebuah "pengembangan"?
  14. Kalau hal itu merupakan sebuah pengembangan, tapi kok tata letak bangunan dan fasilitas-fasilitas baru berantakan dan terkesan "asal dikembangkan dan dipaksakan"?
  15. Apakah pembagian zona("zonasi") pada pengembangan baru itu adalah merupakan pembagian zona mengikuti budaya lama, budaya tradisonal masyarakat Belitung atau Eropa(Belanda)? (pembagian zona di Sunda dikenal dengan istilah "papat kalima pancer", Madura dengan "Taneyan Lanjeng"-nya dansebagainya)
  16. Apakah "ornamen-ornamen" yang terpasang pada fasiltas baru adalah budaya Belitung, tapi kok terkesan budaya asing? (Budaya Belanda juga bukan)
  17. Apakah pemilihan "warna" pada fasilitas-fasiltas baru juga termasuk budaya Belitung? Karena yang terlihat secara "visual" terkesan "norak" dan "kampungan!!!!!"
  18. Apakah Kawasan Samak hanya sekedar "kebun-kebunan binatang?"
  19. Apakah "akses" ke kawasan sudah mumpuni?
  20. Apakah "penerangan" menuju Kawasan Samak sudah cukup? ...Penerangan sangat kurang!!!
  21. Apakah Samak terlupakan dalam penyusunan "Perencanaan Induk Daerah (Master Plan)" sebagai suatu kawasan potensi?
  22. Apakah Kawasan Samak sudah termasuk dalam "Perencanaan"? (Adanya beberapa fasilitas baru)
  23. Apakah ini yang disebut ....."PERENCANAAN"?!?!?!?!


Dan masih segudang pertanyaan yang tidak bisa kupaparkan karena terlampau banyaknya!!!!!!


2009-03-13 : 07:15

belitung sketsa
Arsitektur Lansekap, Pemilu 2009, Besar, dan atau Hijau
(….sepotong pesan dari seorang adek……)


Area bekas penambangan timah yang menjadi danau (kolong)


Eittsss…maaf nih…Bang, kata Hijau diatas ga ada kaitan dan hubungannya dengan salah satu Parpol atau peserta yang berbasis hijau, berlogo hijau, bernuansa hijau atau apapun dengan pernak-pernik hijau dan segala atribut yang berwarna hijau. Atau juga Hijau yang identik dengan salah satu Parpol tertentu yang sempat membuat Euphoria masyarakat Babel, khususnya masyarakat Manggar beberapa waktu yang lalu.


Kata Hijau disini bersifat global untuk semua hal, untuk siapapun yang terlibat dengan kegiatan hajatan nasional yang Super Super Besar. Kenapa dikatakan Besar, karena siapapun udah pada tau dan ngerti, apapun yang ada hubungannya dengan Pemilu selalu identik dengan kata Besar, dana Besar, melibatkan jumlah orang dalam jumlah besar, baik penyelenggara maupun peserta Pemilu itu sendiri, kepentingan Besar. Dan yang lebih penting dari semua kata Besar tersebut adalah apa yang akan dihasilkan merupakan suatu Keputusan Besar demi kelanjutan hidup Bangsa dan Negara kita tercinta (maaf nih bukan sok idealis…). Pemilu 2009 InsyaAllah akan menghasilkan para Anak Bangsa sebagai Wakil-wakil dan Pemimpin kita, yang akan menentukan langkah baik dan buruknya INDONESIA di masa depan. Dan bagi Masyarakat Babel mudah-mudahan lebih makmur, sejahtera, aman dansebagainya yang muaranya masyarakat Babel maju dan lebih dikenal kalau sebenarnya Babel itu ada.



Kembali ke kata Hijau (bukannya sok-sok an jadi pengamat nih), hijau disini lebih mengarah pada Hijau yang berhubungan dengan Lingkungan. Babel selama ini identik dengan penghasil timah baik di Indonesia maupun dunia internasional. Timah merupakan penghasil utama bagi masyarakat Babel, Suka tidak suka hampir semua masyarakat terlibat, baik sebagai penambang maupun sebagai pendukung (menurut informasi ada semacam supplier BBM kecil-kecilan apabila permintaan timah meningkat). Sementara dari sisi lain ada yang dikorbankan, yaitu keseimbangan lingkungan terganggu karena akibat dari penambangan timah meninggalkan lubang-lubang besar di muka lansekap bumi akibat galian penambangan. Kalau kita lihat dari udara, seakan-akan muka lansekap bumi dari Babel seperti bopeng-bopeng. Karena walau bagaimanapun memang antara pertambangan dan lingkungan merupakan sisi mata uang yang berbeda.

Maka itu untuk Abang tercinta, adeknya hanya sedikit titip pesan, tolong masalah ini diagendakan dalam Program-program Kampanye Abang, entah bagaimana cara dan solusinya. Karena berdasarkan survey-survey-an dan pengamatan kondisi di lapangan, kayaknya nih jarang para calon-calon legislative kita di Babel yang menyinggung kata hijau dan lingkungan di Babel. Hampir semuanya teriak selamatkan masyarakat Babel, mengajak jadi relawan atau apapun yang katanya mengatasnamakan kepentingan masyarakat, sementara ga ada yang teriak mau diapain lubang-lubang bekas penambangan ini.


Salah satu bukti akurat adalah kita dihadapkan dengan kondisi alam yang kurang bersahabat, semua merasakan kalau temperature di Babel sangat tinggi, apalagi kalau siang hari, padahal menurut teori-teori yang pernah adek tau, adek denger dan adek baca katanya semua diakibatkan karena lingkungan yang sudah tidak stabil dan kehilangan keseimbangannya. Siklus lingkungan tidak berlangsung sebagaimana mestinya. Dan semuanya itu akhirnya masyarakat yang terkena dampaknya.


Belum lagi, baru-baru ini kita mendengar adanya kemungkinan rusaknya lagi salah satu asset Babel yaitu Hutan Mangrove di salah satu daerah di Babel. Dengan adanya mangrove saja, saat ini area disekitar mangrove sering terjadi banjir karena air laut pasang, apalagi kalau mangrove sudah habis…wallahualam….


Yang jadi pertanyaan sekarang, apakah para calon-calon Legislative kita ini lupa, lalai, kurang peduli atau maaf ni…apakah masalah SDM yang belum mengerti pentingnya lingkungan. Apakah mungkin karena istilah Hijau dan Lingkungan kurang populer dibandingkan dengan hal-hal lainnya? tapi mungkin ga juga, karena mungkin baru-baru ini semua para calon-calon kita sempat dengar atau bahkan teriak tentang apa yang namanya global warming. Atau mungkin belum terjadi musibah seperti daerah-daerah lain di Indonesia yang diakibatkan karena factor lingkungan?!?!


Untuk itu, sebagai seorang adek hanya mencoba untuk mengingatkan walaupun terkesan lancang….tolong sebaiknya hal ini diperhatikan. Karena masalah lingkungan adalah sesuatu yang besar, walaupun di mata para calon-calon kita yang lain kurang popular. Dan kalaupun jadi…InsyaAllah…Amiin….tolong jadikan salah satu agenda pembahasan di Legislatif.


Sekali lagi minta maaf ni, kalau paparan diatas mungkin dianggap ngaco’, karena ide ini adek dapat pas abis dari tukang cetak…..ya mungkin istilah kerennya insiprasi orang-orang terpinggirkan…….


Meminjam kalimat dari seorang sorang sahabat nun jauh disana, beliau berucap…ANCHOOORRRR….mungkin adek plesetin….Babel InsyaAllah tidak akan ANCHOOORRRR, dan InsyaAllah Babel akan menjadi lebih baik…apabila para calon-calon kita menyinggung kata-kata Hijau….

Jakarta 2009-03-12 : 20:53