belitung sketsa
Moral……
Sekedar illustrasi, diriku bernama moral
Entah kenapa kok disebut dan bernama moral
Karena sejak dilahirkan diriku bernama moral
Hari demi hari diriku tetap bernama moral
Kata orang sih, moral itu dibutuhkan oleh semua orang
Apakah dia berasal dari kalangan biasa sampai ke kasta tertinggi
Karena kalau dipakai apa yang namanya moral, InsyaAllah akan selamatlah negeri ini
Tetapi katanya, apabila diacuhkan akan membuat tidak nyaman
Tidak nyaman terhadap siapa yang tidak menggunakannya kalau dia sebenarnya menyadari
Maupun terhadap siapa yang terkena efek, akibat atau dampak dari yang tidak menggunakan moral
Walaupun diriku tidak berwujud dan tidak kasat mata
Tetapi sebenarnya semua orang pengen sih memanfaatkan dan menggunakan moral
Moral didambakan setiap apapun, siapapun, kenapa, dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun
Katanya kalau ada yang memanfaatkan dan menggunakan moral suka tidak suka akan mendatangkan pujian
Tetapi kalau tidak memanfaatkan dan menggunakan moral malah akan mendatangkan cacian dan makian dan bahkan malapetaka
Katanya yang tidak membutuhkan dan menggunakan moral nanti dengan sendirinya berganti nama menjadi amoral

Jakarta, Selasa 2009-03-17 – 12:30
belitung sketsa

Kira-kira beberapa jam yang lewat, diriku nonton sebuah acara di stasiun tipi swasta (baca: Barometer SCTV). Acaranya cukup menarik dan seru untuk dipelototin. Topiknya tentang artis-artis kita yang mencalonkan dirinya menjadi wakil rakyat.

Yang diundang untuk berceloteh ada 5 orang artis ditambah 2 orang pengamat dan dua institusi pendidikan (baca: 2 sekolah). Selain itu juga diundang yang katanya baru nulis ‘n’ nerbitin buku yang berkisah tentang koar-koar para artis yang jadi calon wakil rakyat. Terus acara ini juga dilengkapin statistic hasil poling dari 10 kota besar yang membahas artis dan wakil rakyat….mungkin biar seru kali yeee….

Kebetulan juga pemirsa…eehh salah…pembaca….dari 5 artis ini, salah satunya lagi aktip sebagai wakil rakyat yang katanya masih dipercaya untuk nyalon lagi.

Begitu acara ini dimulai dan para peserta yang diundang ini diperkenalkan …. mulailah terjadi silang pendapat. Si artis mengemukakan alasannya tuk jadi wakil rakyat walaupun sebenarnya alasannya sangat sangatlah klasik menjurus najong…taukah sodara-sodara apa itu…tak lain ‘n’ tak bukan semuanya katanya “demi rakyat”, mereka terpanggil untuk bela kepentingan rakyat yang sudah ditindas selama ini…

Acara bertambah seru setelah ada pertanyaan dari para mahasiswa. Para artis menjawab apa yang harus mereka jawab, berargumen ‘n’ bertambah dahsyat setelah para pengamat mementahkan jawaban para artis. Si pengamat berpendapat dengan background ‘n’ pengetahuan yang dia miliki. Sementara para artis dengan caranya sendiri mencoba untuk mempertahankan argumennya. Acara jadi semakin panas. (kompor kali)

Tapi tiba-tiba otak ‘n’ pikiran diriku ngerasa keganggu dengan argument ‘n’ sikap prilaku para artis kita yang notabene calon wakil rakyat. Ketika ada pertanyaan tentang layaknya mereka tuk jadi wakil rakyat? Siap mundur ga, kalo entar ga bisa kasi kontribusi? Terus ada pernyataan dari akademisi bahwa mereka ga yakin dengan para artis.

Tapi apa jawabannya sodara-sodara….si artis berargumen bahwa dia layak karena tau penderitaan rakyat. Kalopun mahasiswa ga suka dia no problem, karena mereka dengan yakinnya bilang mempunyai kantong-kantong suara, jadi tanpa mahasiswa ga masalah. Emang sih jawaban yang biasa…tapi kok diriku ngeliat…seperti jawaban yang sedikit “arogan”…..apalagi mereka menjawab dengan muka yang kurang bersahabat???!!! Apa karena terlalu serius…..taulah….

Apalagi artis yang lain menyebutkan mereka layak untuk dipilih, toh katanya mereka berpendidikan ‘n’ lagi kuliah S2. It’s ok mereka kuliah, baguslah kalo’ artis kita ga hanya ngandelin cakep doang…tapi itu dia mukanya kok ga asik banget ya…terus seperti ga mo kalah ‘n’ ga mo disalahin…..

Ketika ada pertanyaan berapa dana yang telah mereka keluarkan? Dan bagaimana mereka mengembalikan dana yang telah dikeluarkan buat kampanye? Entar korupsi lagi?

Jawaban mereka bahwa ga masalah berapapun dana yang udah dikeluarkan, toh demi rakyat.

Ok jawaban yang top abisss….tapi ketika ada celoteh honor mereka ma korupsi…..jujur diriku sangat tidak suka. Bahwa mereka berjuang buat rakyat, demi rakyat…siiplah…tapi embel-embel kalimat buat apa korupsi? honor di wakil rakyat mereka berapa sih? lebih banyak honor yang mereka dapatkan kalo dia jadi artis….!!!! Emang sih dicelotehin sambil “cengengesan”, tapi kembali diriku ngeliat raut mukanya itu loh…ok itu becanda…..tapi bagi yang peka ma sensitip kayanya terkesan “cari pembenaran”…(maap artis….bukan diriku loh yang sensitip, orang-orang lain mungkin yang sensitip)

Emang sih kalo dari sisi materi, penghasilan jadi wakil rakyat ga seberapa dibandingkan kalo dia maen sinetron, manggung ato apalah. Tapi perlu diingat kata orang bijak sih manusia itu pasti yang di incer “harta, tahta ‘n’ wanita”. Harta udah mereka dapet. "Kekuasaan" apakah uda dia dapet????

Untuk jawaban dengan mimic becanda it’s ok, mungkin biar ga tegang. Tapi ketika jawaban yang kadang-kadang kelewat ga nyambung disertai dengan polah yang “kurang berkenan” itu yang bikin diriku berpikir ‘n’ berpikir lagi.

Mungkinkah entar di ruang sidang kelakuan mereka yang tak “senonoh” itu muncul, karena kita ga tau entar yang terjadi ‘n’ apa yang mereka kerjakan di senayan sana. Apa entar sidang yang seharusnya serius jadi sidang “lelucon”. Kita ga tau, karena ga ada stasiun tipi yang nyorot beliau-beliau secara penuh ato ga ada siaran khusus tiap hari, tiap saat……(boleh juga nih ide buat stasiun tipi khusus nyorot klakuan para wakil kita selama 24 jam, 7 hari, 4 minggu, 12 bulan ‘n’ lima tahun pull)

Istilah “badut-badut politik” yang sering kita denger selama ini jadi badut beneran……..

Kamis, 2009-03-19 – 05:48 (Yulias)
belitung sketsa

Puluhan artis da latah ikut-ikutan untuk jadi wakil rakyat…maap ni bukannya ngelarang, silahkan selama “layak” ‘n’ yang jelas harus memenuhi persyaratan sebagai calon wakil rakyat.

“Layak” disini bukan sekedar layak karena bermodalkan ganteng, cantik ato karena popular!!! Disini bukan panggung artis yang mereka gelutin selama ini, tetapi panggung yang sebenar-benarnya. Kalo’ di panggung keartisan, kecil resiko yang mereka akan dapatkan, paling-paling ditinggal penggemar, pelmnya ga ditonton orang, lagunya ga didengerin ato ga laku dijual.

Panggung disini resikonya sangat “maha besar”, karena bukan sekedar ditinggal penggemar tapi akan memakan korban. Rakyat akan menderita dan semakin sengsara. Kalo di panggung keartisan paling lama shownya sejam dua jam. Kalo penggemar suka maka pelmnya dipelototin sampe abis ‘n’ lagu didengerin mpe kaset ma CDnya rusak. Kalo penggemar ga suka paling ganti program lainnya (baca:sinetron dansebagainya).

Tapi kalo di panggung yang sebenarnya ini durasinya amat panjang, ga kurang ga lebih lima tahun!! Kecuali berbesar hati mundur kalo uda ngerasa ga mampu berbuat buat rakyat. Dengan waktu lima tahun, suka ga suka rakyat akan menerima apapun hasilnya baik ato buruk..kecuali bisa ganti program kaya’ di tipi kali yeee…..

Cuma yang jadi pertanyaan buat mereka adalah apakah bener mereka-mereka serius memikirkan rakyat, kalo emang serius, layak ‘n’ wajib kita dukung. Tapi kalo’…………….(silahkan isi terserah pembaca) apakah layak kita dukung?

Bukannya “pesimis” dengan kehadiran mereka, tapi karena ada yang bilang kalo mereka tampil sebagai calon wakil rakyat hanya bertujuan untuk mendulang suara dari Partai….yang kalo’ di kerenin namanya menjadi “vote-getter”. Terus untuk rakyat sendiri sebagai pemilih nantinya apakah akan “fair” untuk memilih? Jangan-jangan mereka milih karena merasa kenal dengan figur “keartisannya”.

Apalagi ada beberapa kader partai yang katanya ngaku udah “karatan” di Partai, merasa tersisih dengan kehadiran para artis. Tempat mereka udah di “kudeta” secara terang-terangan. Para kader lama mungkin berpikir kok enak banget ya para artis ini, ga ikut berjuang membesarkan partai, tiba-tiba jadi calon-calon anggota wakil rakyat. (uuhhh bener-bener ga berperasaan ni artis). Sementara para kader yang katanya uda abis-abisan besarin partai susah abis tuk jadi calon anggota wakil rakyat.

Tapi kita juga harus bersyukur dengan adanya calon dari para artis. Paling tidak uda buat nuansa baru di dunia perpolitikan kita. Wajah-wajah baru, yang mungkin akan menggeser wajah-wajah lama yang ga jelas. Paling tidak dengan kepopulerannya, kita berharap mereka lebih mudah bersosialisasi, berkomunikasi dengan rakyat ketika mereka uda jadi wakil rakyat. Rakyat mungkin jadi gampang “curhat” kali yeee…ma para artis….tentang suka duka dan deritanya………Amiiinnn….

Tapi it’s OK… mungkin uda saatnya emang para artis kita layak ganti panggung. Mungkin dari mereka InsyaAllah Indonesia bisa berubah. Daripada wakil-wakil kita yang ada sekarang ini serba ga jelas. Bahkan dengan PDnya nyalon lagi dengan alasan rakyat masih membutuhkan beliau-beliau yang merasa “terhormat”.

Selamat berjuang ARTISKU…..mudah-mudahan hatimu, niatmu, tujuanmu secantik ‘n’ seganteng mukamu!!!!!

Iseng-iseng dari orang bego =

Jumlah calon wakil rakyat dari artis berjumlah 63…..jadi kalo di jumlahin secara bego pula katanya menjadi 9 ‘n’ artinya sama dengan QIYU yang berarti pula angka yang baik. Mudah-mudahan para artis kita baik ‘n’ membawa harapan yang baik….Amiiinnn….

Waktu kalong, Kamis 2009-03-19 – 03:41 (Yulias)
belitung sketsa
Adanya kampanye terbuka memberi kesempatan ma calon-calon wakil rakyat kita untuk memperkenalkan diri mereka siapa sebenarnya….manusiakah, mahkluk haluskah…ato mahkluk lainnya!!!

Kesempatan buat rakyatku tau ‘n’ bisa mikir sapa sih yang pantas akan mereka pilih? Sapa sih yang akan menjadi perwujudan dari rakyat? Jangan berubah wujud entar…..Sapa sih yang mo ngibulin mereka….Naudzubillah….

Emang sih kampanye terbuka merupakan sebuah kesempatan, tapi tolong jangan lupa ma tugas ‘n’ tanggungjawab masing-masing. Kenapa diriku berucap dengan kalimat tersebut diatas, karena diriku tertarik ma tayangan di salah satu stasiun tipi swasta. Tipi swasta tersebut mengaku dapat bukti kalo di Kantor DPRD salah satu kota di Jawa Barat, pada kampanye terbuka hari ketiga ini kosong melompong tak ada tampak batang hidungnya.

Menurut info yang mereka dapat, katanya para wakil rakyat (lagi aktip) di Purwakarta itu lagi kampanye terbuka. Padahal diantara mereka ga semuanya ada jadual kampanye (katanya para wakil rakyat yang masih aktip nyalon lagi)..?!@!@?$$?? ….nyalon lagi…..???

Terlepas ada jadual ato ga, tapi diriku jadi bertanya-tanya!!! Gimana mo nyalon lagi??? Yang sekarang aja mereka da "kabur-kaburan" apalagi entar?!? Kalo emang mo nyalon lagi boleh-boleh aja, ga masalah kok. Toh kan ga ada yang ngelarang, apalagi katanya disebutkan bahwa setiap warga Negara berhak dicalonkan dan mencalonkan…sok tau diriku ya…tapi iya sih diriku pernah denger tu peraturan tapi ga tau nomer e piro?!

Mungkin kalo niatnya baik ‘n’ demi kemaslahatan umat…InsyAllah…tanpa kampanye terbukapun pasti dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa…Amiinnn….untuk jadi wakil rakyat….jadi ga perlu takut. Ato juga bisa disiasatin dengan cara lain…maap diriku ga bisa kasi solusi cantik, karena para calon wakilku pasti punya cara yang lebih brilliaaaaannn.

Jadi…….

Tolong jangan buat alasan yang ngada-ngada. Amanah tetap amanah…tanggungjawab tetap sebuah tanggungjawab yang harus dipertanggungjawabkan!!!!!!!!!...ingat itu!!!!!....cam kan!!!!!

Waktu kalong, Kamis 2009-03-19 – 02:17 (Epphy’x)
belitung sketsa
Awas Ketipu…Pilih Yang Berisi
(……terinspirasi iklan Tipi……..)

Hari ketiga….

Boleh juga tu iklan….kalo kita hayati, kita cermati, kita renungkan….sederhana…simple sih….tapi arti dan maknanya men…..dahsyat abis….ngalahin bom Bali…

Iklan itu, bikin gw yakin seyakinnya, pasti yang punya ide sebelumnya ga perlu mikir lagi ‘n’ ngebahas-bahas lagi. Pasti beliau yang punya ide cukup ngeliat kondisi yang terjadi saat ni terus nyocokin ma janji-janji jaman dahulu kala sebelum beliau-beliau terhormat menjadi “wakil kita”. Yang jelas semuanya jadi ga jelas, ga tau juntrungannya antara janji ma saat ini……salut deh ma yang punya ide sekalian ma tukang rokoknya sekalian (iklan LA Light)…

Kayaknya iklan tu cocok banget buat ngingetin kita, ngingetin rakyat kita, jangan asal pilih ‘n’ percaya ma tukang-tukang kibul yang lagi ngibul dimana-mana, walaupun katanya buat memperkenalkan diri ke rakyat biar rakyat tau, kalo doi-doi mau berjuang demi rakyat…..katanya sih. Kalo ga salah nama acara ma kegiatannya, mereka populerkan dengan istilah keren plus gaul bertajuk KAMPANYE TERBUKA.

Rakyatku tolong ya…. iklan tu dipikirin, kalo perlu nanya ma “tukang pakar” bener ga tu iklan, apa Cuma ngada-ngada? Pasti jawabannya banyak bilang yang bener....ya bener kalo iklan itu bisa inget ma produknya (maap tukang rokok) ….tapi ga usah khawatir ga beli produknya ga papa kok…namanya aja lagi mo jualan..kok bahas produknya…tapi yang jelas pesen dan makna tulisan yang ada disitu “Awas Ketipu…Pilih Yang Berisi” sangat menggetarkan hati.

Jangan mpe kita ketipu ama yang kita pilih, yang entar malah bilang nyesel kalo da pilih “kucing dalam karung”….tapi isinya dalam karung kok banyakan “tikusnya” yak?!@#@!? Bener sih milih yang berisi ‘n’ isinya bener-bener banyak, mpe karungnya hamper jebol lo…..tapi ternyata isinya “tikus” semua piye toh?

Jangan mpe terpengaruh ma yang katanya berisi tapi isi yang ga jelas! Jangan terbuai yang hanya sejam dua jam, karena entar panjang lo waktunya, lima tahun mereka bisa lebih dahsyat tuk ngibulin kita semua. Cukuplah kesalahan-kesalahan masa lalu berakhir sampai disini, jangan lagi ada duka antara kita…ceilah lagu banget yak…

Kan kata Sang Raja Dangdut kita OM SONETA Group Bang H. Rhoma Irama “jangan sampai kehilangan Tongkat”, maap bang Aji kalo judulnya salah, abis yang diriku inget begitu. Jadi entar rakyatku kalo milih jangan mpe salah, salah, salah ‘n’ salah lagi. Ga ada alasan lagi karena ga ngerti sapa yang mo dipilih, terus asal-asalan nyontreng, nanya’ dulu kalo emang ga tau ‘n’ ga ngerti.

Pokoke jangan ada yang ngeluh lagi karena alasan apapun entar setelah lima tahun ke depan, karena yang kalian pilih rakyatku untuk kepentingan kalian…..!!!!!!!!!

Makasih iklanku…sakalangkong tang iklan….ma’ kase iklan….thanx…

Waktu kalong Kamis, 2009-03-19 – 01:49 (Epphy’x)


belitung sketsa
Ber………
Berkhayal
untuk melakukan hal terbaik dan bercita-cita…..
Bercita-cita agar khayalan kita tidak sia-sia dan terus bermimpi…..
Bermimpi untuk memelihara cita-cita dan tidak lupa untuk berusaha…..
Berusaha untuk mewujudkan mimpi dan segera bertindak…..
Bertindak dengan tidak banyak bersuara…..
Bersuara apakah tindakan ini benar apa salah dengan bertanya…..
Bertanya dengan suara lemah lembut dan berjiwa besar…..
Berjiwa besar untuk menerima jawaban dari bertanya dan mencoba untuk berpikir…..
Berpikir dengan jiwa besar untuk mencari langkah terbaik sebelum berbuat…..
Berbuat untuk menerjemahkan hasil buah pikiran dengan tidak lupa berdoa…..
Berdoa agar semua tercapai dan terkabul atas izin Allah serta berlapang dada…..
Berlapangdada apapun jawaban dari doa dan tetap terus bersyukur…..
Bersyukur terhadap apa yang telah kita terima, terlepas baik atau buruk karena semua hal itu InsyaAllah adalah yang terbaik yang Allah berikan…..

Jakarta, Selasa 2009-03-17 – 04:27 (yulias)
belitung sketsa

Beberapa waktu yang lalu masyarakat Belitung dihebohkan dengan dua kata yang disebut "laskar pelangi". Hampir di setiap kesempatan semua membicarakan apa itu yang disebut dengan laskar pelangi. Dari hanya yang sekedar obrolan disekitar warung kopi sampai ke obrolan yang katanya sudah kategori tingkat tinggi. Dari mereka yang hanya sebatas memuji sampai dengan mereka yang tidak suka dengan kehadirannya.

Semua berlomba pengen tau seperti apa sih mahkluk yang bernama laskar pelangi? Siapa sih yang menjadi inspirasi dari laskar pelangi? Gimana sih bentuknya laskar pelangi yang mampu mengangkat nama Belitung menjadi dikenal kalau sebenarnya Belitung itu ada? Sejenis apakah laskar pelangi yang mampu membius masyarakat, yang katanya se-Indonesiapun membicarakannya.

Tetapi bagi mereka-mereka yang uda tau, cepat berpikir dan bertindak. Dari yang hanya sekedar pengen nampang, numpang dan mungkin mencatut kebesaran laskar pelangi hanya untuk kepentingan tertentu. Pokoke dari laskar pelangi nama Belitung udah ga dipandang sebelah mata lagi. Dan Belitung pun yang katanya masih memiliki mempunyai potensi-potensi lainnya, akan siap meledak kapanpun, dibutuhkan atau tidak.

Tetapi “euphoria” itu sekarang mungkin masanya sedikit udah lewat dan udah berganti dengan “euphoria” yang lain. Kalau sebelumnya laskar pelangi bercerita tentang perjuangan anak-anak bangsa Belitung agar nantinya menjadi lebih baik, maka sekarang laskar pelangi berjuang dalam bentuk lain.

Disebut dengan laskar pelangi dalam bentuk lain, mungkin hanya sekedar mengada-ngada dan sok tau. Laskar Pelangi yang sekarang disebut Pemilu 2009 dan pemainnya, pelakunya dan aktornya tetap masyarakat Belitung. Mungkin bedanya dengan laskar pelangi sebelumnya adalah momennya, waktunya, jumlah pemainnya, kepentingannya atau tujuannya.

Laskar pelangi yang sekarang melibatkan keseluruhan masyarakat Belitung yang udah memenuhi syarat tanpa terkecuali. "Sutradaranya" pun lebih banyak, mungkin 99,9999% masyarakat Belitung dari jumlah penduduk, selebihnya kebagian peran sebagai peran pembantu. Kenapa sutradaranya lebih banyak karena mereka-merekalah yang nantinya akan menentukan siapa yang akan menjadi pilihan mereka untuk membawa Belitung kearah yang lebih baik.

Untuk menjadi aktornya mungkin tidak ada, yang ada hanya peran pembantu dengan jumlahnya sangat sedikit. Yang menjadi peran pembantu adalah mereka-mereka yang dengan sengaja mengajukan diri untuk kebagian "peran pembantu" (baca:wakil rakyat). "Peran pembantu" yang nantinya tugasnya menjadi “pembantu” masyarakat Belitung untuk memperjuangkan aspirasinya, memperjuangkan nasib masyarakat Belitung agar menjadi lebih baik dari saat ini.

Laskar pelangi kalau diterjemahkan secara bebas mungkin berarti pasukan yang berwarna-warni seperti warna pelangi. Seperti halnya Pemilu kali ini juga berwarna-warni. Warna atribut yang beraneka ragam, program kampanye bermacam-macam, sampai ke tingkah polah para calon peran pembantunya.

Agar terpilih sebagai peran pembantu(baca:wakil rakyat) mereka mencoba untuk ikutan “casting” seperti halnya pada proses pembuatan film. Mereka berekspresi, berimprovisasi, berimpresi, beraktualisasi untuk menarik perhatian sang sutradara(baca:masyarakat Belitung).

Mereka berupaya dengan segala cara (asal dengan tidak dengan cara kotor atau menghalalkan segala cara) agar nantinya bisa menggugah sang sutradara untuk memilihnya. Ada yang memberikan janji akan menjadi peran pembantu terbaik ketika nantinya terpilih dengan segala macam alasan (mudah-mudahan bukan janji palsu). Ada yang mengajak sang sutradara untuk ikut menjadi pemain kalau filmnya nanti diproduksi (baca:mengajak jadi "relawan", bukannya para peran pembantu telah merelakan dirinya yang menjadi relawan masyarakat). Ada juga yang dengan sok PDnya (baca:percaya diri) merasa sudah terpilih menjadi peran pembantu (baca:merasa punya massa pemilih), dan masih banyak tingkah polah dan prilaku mereka-mereka dari yang serius sampai yang lucu bin unik yang mengundang tawa.

Tetapi apapun bentuk dan perilakunya, paling tidak mereka-mereka telah memberikan hiburan gratis bagi masyarakat Belitung, setelah sebelumnya dihibur dengan laskar pelanginya Andrea Hirata. Mungkin laskar pelangi yang sekarang akan lebih menarik dibandingkan dengan laskar pelangi sebelumnya. Masih “casting” aja mereka udah bisa menghibur masyarakat, apalagi kalau proses pembuatan filmnya (baca:proses Pemilu) selesai. Karena laskar pelangi yang sekarang sutradaranya adalah masyarakat sendiri dan tentu hasilnya lebih dahsyat sesuai keinginan masyarakat Belitung……InsyaAllah…Amiiinnn…

Jakarat, Selasa 2009-03-17 – 14:25 (Yulias)